Ketika film Click dirilis pada tahun 2006, banyak orang datang ke bioskop mengharapkan film komedi konyol khas Adam Sandler. Premisnya memang terdengar sangat lucu: Seorang arsitek gila kerja bernama Michael Newman mendapatkan sebuah remote control universal ajaib yang bisa mengendalikan alam semesta. Ia bisa mengecilkan volume suara anjingnya yang berisik, me-pause (menghentikan waktu) bosnya untuk memberikan tamparan fisik tanpa ketahuan, hingga memutar balik waktu ke masa lalu.
Namun, di paruh kedua film, tawa penonton perlahan mereda dan digantikan oleh isak tangis. Click tiba-tiba berubah menjadi salah satu film dengan pukulan psikologis dan filosofis paling brutal tentang makna kehidupan, penyesalan, dan waktu.
Pelajaran terbesar dari film ini berpusat pada satu tombol fatal di remote tersebut: Tombol Fast Forward (Percepat).
Jebakan Menghindari Rasa Sakit
Awalnya, Michael menggunakan tombol fast-forward untuk hal-hal yang bisa dipahami semua orang. Ia mempercepat waktu saat sedang bertengkar dengan istrinya karena ia benci konflik. Ia mempercepat waktu saat sedang sakit demam agar langsung sembuh. Dan yang paling fatal, ia mempercepat waktu bekerja berbulan-bulan hanya agar langsung sampai pada hari di mana ia mendapat promosi jabatan.
Bukankah itu yang kita semua inginkan? Melompati bagian hidup yang membosankan, menyakitkan, dan melelahkan, lalu langsung melompat ke garis finish yang bahagia?
Dalam ilmu psikologi, apa yang dilakukan Michael dikenal sebagai Experiential Avoidance (Penghindaran Pengalaman). Manusia memiliki kecenderungan alami untuk melarikan diri dari ketidaknyamanan, rasa bosan, atau rasa sakit emosional.
Masalahnya, saat kita terus-menerus menghindari ketidaknyamanan, kita kehilangan esensi dari kehidupan itu sendiri.
Tragedi Hidup dalam Mode "Autopilot"
Tanpa Michael sadari, remote ajaib tersebut memiliki memori internal. Karena ia terlalu sering melewatinya, remote itu secara otomatis me-fast-forward setiap kali Michael menghadapi pertengkaran, jatuh sakit, atau bekerja. Tubuh Michael tetap hidup dan bergerak, namun kesadarannya melompat ke masa depan. Ia hidup dalam Mode Autopilot.
Akibatnya sangat mengerikan. Ia terbangun bertahun-tahun kemudian sebagai CEO yang sangat kaya, namun ia melewatkan momen saat anak-anaknya tumbuh dewasa, ia melewatkan kematian ayahnya, dan istrinya telah menceraikannya lalu menikah dengan pria lain karena Michael secara emosional "tidak pernah hadir" selama bertahun-tahun.
Di dunia nyata, kita mungkin tidak memiliki remote ajaib, namun fenomena "Autopilot" ini sangat nyata terjadi di era modern. Dr. Ellen Langer, seorang profesor psikologi dari Harvard University, menyebutkan bahwa sebagian besar stres manusia modern berasal dari "Mindlessness" (ketiadaan kesadaran).
Seberapa sering Anda menyetir pulang ke rumah dan tiba-tiba sudah sampai di garasi tanpa mengingat perjalanan yang Anda lewati? Seberapa sering Anda mengangguk pada cerita pasangan atau anak Anda, padahal pikiran Anda melayang memikirkan deadline pekerjaan besok? Kita menggunakan smartphone, scrolling media sosial tanpa henti, dan sibuk bekerja sebagai tombol fast-forward kita sendiri untuk menghindari kebosanan dan masalah saat ini.
Tidak Ada "Puncak" Tanpa Proses Pendakian yang Melelahkan
Adegan paling menyayat hati dalam Click terjadi di akhir film. Michael yang sudah tua renta, sakit-sakitan, dan sekarat, memaksakan diri berlari keluar rumah sakit di tengah hujan badai. Ia terjatuh di aspal demi mencegah anak laki-lakinya membatalkan bulan madu demi pekerjaan.
Dengan napas terakhirnya, ia mewariskan satu-satunya kebijaksanaan yang terlambat ia pelajari: "Keluarga yang utama."
Kehidupan tidak hanya terdiri dari kumpulan akhir pekan, hari gajian, pesta pernikahan, dan liburan panjang. Kehidupan sejatinya adalah apa yang terjadi di antara momen-momen tersebut.
- Rasa lelah saat mengganti popok anak di tengah malam adalah bagian dari proses menjadi orang tua yang membangun ikatan batin.
- Argumen dan pertengkaran dengan pasangan adalah momen krusial untuk belajar berkompromi dan memahami satu sama lain.
- Rasa bosan dan lelah di meja kerja adalah ujian ketahanan mental kita.
Jika Anda menghapus kesedihan, kemarahan, dan kebosanan dari hidup Anda, Anda tidak akan pernah bisa benar-benar merasakan apresiasi atas kebahagiaan dan kedamaian.
Berhentilah menekan tombol fast-forward dalam hidup Anda dengan selalu menunggu "hari esok yang lebih baik". Hiduplah hari ini, di detik ini. Rasakan secara utuh kesulitannya, kebosanannya, dan perjuangannya. Karena suatu hari nanti, saat waktu Anda benar-benar habis, hari-hari biasa yang membosankan itulah yang paling ingin Anda ulangi kembali.
Referensi & Sumber Rujukan:
- Kabat-Zinn, J. (1994). "Wherever You Go, There You Are: Mindfulness Meditation in Everyday Life". Hyperion.
- Langer, E. J. (1989). "Mindfulness". Addison-Wesley/Addison Wesley Longman.
- Hayes, S. C. et al. (1996). "Experiential Avoidance and Behavioral Disorders". Journal of Consulting and Clinical Psychology.
- Coraci, F. (Sutradara). (2006). "Click" [Film]. Columbia Pictures.