Tentang Kami Kegunaan & Manfaat Cara Kerja Sistem Klaim Wasiat Blog Pilihan Layanan
Masuk ke Akun Siapkan Pesan Terakhir

Mata Teduh di Sudut Kelas: Sebuah Surat Terbuka untuk Rahma Waty

Tim GemaKala

10 Mei 2026 8 mnt baca

Bagikan:
Mata Teduh di Sudut Kelas: Sebuah Surat Terbuka untuk Rahma Waty
Apakah kamu Rahma Waty? Ini adalah surat dari Ari Sena, teman satu mejamu di kelas 1 SD dulu. Kisah penantian 18 tahun yang menolak dihapus oleh waktu.

Oleh: Ari Sena

Pontianak, 10 Mei 2026.

Halo, nama saya Ari Sena. Jika suatu hari nanti mesin pencari membawa seseorang ke halaman ini, saya berharap orang itu adalah kamu. Ini adalah kisah tentang seorang anak laki-laki yang menemukan alasan untuk berubah, dan tentang seorang gadis kecil yang namanya tak pernah sudi dihapus oleh waktu: Rahma Waty.

Bab 1: Anak Laki-Laki di Barisan Belakang

Saat itu saya masih duduk di bangku kelas 1 SD. Jika ada daftar anak paling bermasalah di sekolah, nama saya pasti berada di urutan teratas. Saya nakal, sering melawan guru, tidak bisa membaca, dan lembar ujian saya selalu berhiaskan angka nol. Kelas adalah arena bermain, dan berantem adalah rutinitas. Puncaknya terjadi di hari pembagian rapor; saya dinyatakan tidak naik kelas.

Dunia anak kecil saya hancur. Saya diremehkan oleh orang tua, diolok-olok oleh kerabat dan sepupu karena tidak bisa membaca dan menulis. Saya kembali ke sekolah setelah liburan panjang dengan langkah gontai, masuk ke kelas baru dengan wajah-wajah asing. Di sana, saya mulai berteman dengan Edo, Angga, Adam Malik, dan Fatur—terutama Edo yang sering menghidupkan suasana. Saya memilih duduk di bangku paling belakang, tempat persembunyian favorit saya. Saya perlahan mulai mengurangi kenakalan saya, meski nilai-nilai di atas kertas masih tak kunjung membaik.

Hingga suatu hari, guru memanggil beberapa nama untuk dipindahkan ke kelas 1C. Nama saya, Ari Sena, dipanggil.

Lalu, nama selanjutnya bergema di ruang kelas: Rahma Waty.

Saat dia melangkah, pandangan saya terkunci. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya yang masih sangat belia, ada desir aneh di dada. Dia cantik. Matanya agak sipit, membingkai tatapan yang teduh. Rambutnya pendek, sedikit ikal, dengan poni yang sesekali menutupi mata kanannya. Dan yang paling lekat di ingatan saya: ada sebuah tahi lalat kecil yang manis bertengger di dekat bibir bawahnya.

Di kelas yang baru, kami berdua sama-sama penghuni barisan belakang, meski tak satu meja. Dia duduk bersama teman perempuannya, dan dari kejauhan, saya merangkap menjadi pengamat rahasia. Dia bukan anak dengan nilai tertinggi, tapi keberaniannya untuk terus bertanya dan mencatat di papan tulis membuat saya takjub. Saya ingin dekat, tapi saya tidak tahu caranya.

Bab 2: Insiden Buku LKS dan Aroma Parfum

Tuhan terkadang menggunakan kecerobohan kita untuk merancang takdir. Sebagai anak laki-laki yang urakan, saya sering lupa membawa buku LKS. Saya tidak paham cara menyusun buku sesuai jadwal; kadang tas saya penuh sesak, kadang hanya berisi satu buku tipis.

Suatu hari, kecerobohan itu terjadi lagi. Mengetahui saya tidak membawa LKS, guru menghukum saya untuk pindah, berbagi meja dengan Rahma.

Jantung saya berdegup tidak karuan. Duduk di sampingnya, lidah saya kelu. Jangankan untuk menatap wajahnya, bernapas saja rasanya harus diatur. Namun, saat saya duduk di sana, ada aroma parfum dari tubuhnya yang menyerbak lembut. Aroma itu, hingga detik ini, adalah definisi ketenangan bagi saya. Hari itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup saya, saya mencatat pelajaran dengan serius. Hanya karena Rahma ada di samping saya.

Rahma mengubah rotasi duniaku. Anak laki-laki pemalas yang susah bangun pagi ini tiba-tiba selalu gelisah di malam hari, tidak sabar menunggu matahari terbit agar bisa segera berangkat ke sekolah. Alasannya hanya satu: saya ingin melihat Rahma Waty.

Karena kecerobohan saya yang "konsisten" melupakan buku, wali kelas akhirnya memutuskan saya duduk permanen di samping Rahma. Teman sebangkunya dipindah ke depan, bergabung dengan sahabatnya, Vatia dan Gita. Anak-anak laki-laki di kelas mulai menyoraki kami, “Cieee… cieee…” Saya hanya diam, canggung sekaligus salah tingkah. Tapi Rahma? Dia setenang air. Dia tidak terganggu sama sekali.

Bab 3: Mitos Penghapus dan Nama yang Tersembunyi

Hubungan kami mulai mencair. Karena saya kesulitan melihat papan tulis dari belakang, Rahma berinisiatif mengajak saya pindah ke bangku kosong di depan, tepat di belakang meja Vatia dan Gita. Di sanalah kami mulai saling bertukar cerita dalam bisikan-bisikan kecil di tengah pelajaran.

Saat itu, ada sebuah tren unik di kalangan anak perempuan. Mitosnya, jika kamu menulis nama orang yang kamu sukai di bagian dalam karet penghapus, dan kamu berhasil menggunakannya sampai habis tanpa disentuh orang lain, maka cintamu akan terbalas. Tentu saja, saya si anak laki-laki cuek sama sekali tidak tahu soal ini.

Suatu siang, saat saya sedang menulis, saya membuat kesalahan dan butuh penghapus. Saya mencoba meminjam pada Gita dan Vatia yang sedari tadi cekikikan.

"Nggak aah, pinjam saja ke yang lain. Soalnya penghapus ini udah ada nama orang," tolak mereka. "Siapa?" tanya saya penasaran. "Adaaa laah..." ledek Gita.

Saya menoleh ke samping, menatap Rahma. Tanpa banyak bicara, dia menyodorkan penghapusnya kepada saya. Namun, saat tangan saya meraihnya, dia berpesan pelan, "Jangan dibuka ya bungkus penghapusnya, soalnya ada nama seseorang di situ."

Saya mengernyit. "Nama seseorang?"

Rasa penasaran mengalahkan saya. Dengan hati-hati, saya menatap matanya, "Apakah boleh aku buka bungkus penghapus ini?" Rahma mengangguk pelan, "Boleh kok."

Perlahan, saya menggeser bungkus kertas penghapus itu. Di sana, tertulis dua kata yang membuat aliran darah saya berhenti sejenak: Ari Sena.

Saya menoleh ke arahnya, dan sebuah senyuman merekah di bibir saya. Hari itu, di balik meja kayu kelas 1, saya tahu bahwa perasaan ini tidak bertepuk sebelah tangan.

Bab 4: Buku Catatan yang Terbongkar

Namun, dunia SD tidak selalu seindah cerita dongeng. Di kelas kami, ada banyak anak nakal, dan entah mengapa, Rahma yang pendiam sering menjadi sasaran bullying.

Setiap kali melihatnya diolok-olok, darah saya mendidih, tapi ada ketakutan anak kecil yang menahan langkah saya. Yang bisa saya lakukan hanyalah mendekatinya saat dia menangis, duduk di sisinya, menghiburnya dalam diam, dan membiarkannya berkeluh kesah. Saat jam olahraga, ketika anak-anak lain sibuk dengan kelompoknya, kami sering menyendiri, bermain bola hanya berdua.

Hingga suatu pagi, mimpi buruk itu terjadi. Saya datang sedikit terlambat. Dari kejauhan, saya melihat gerombolan anak laki-laki berkerumun di depan kelas, tertawa terbahak-bahak. Seorang teman berlari menghampiri saya, membawa kabar bahwa Rahma sedang dibully habis-habisan.

Saya berlari sekencang mungkin, mendobrak pintu kelas. Di sana, Rahma duduk mematung di bangkunya, tak berkutik. Buku catatan pribadinya dirampas oleh anak-anak nakal itu, dan mereka membacakan isinya dengan lantang di depan semua orang. Nama saya ada di sana. Kami dipermalukan, disoraki seisi kelas.

Di tengah riuh tawa yang menyakitkan itu, sang pembully menatap Rahma dan bertanya dengan nada mengejek, "Rahma, coba sebut siapa laki-laki yang kamu suka di kelas?!"

Kelas mendadak hening. Saya berdiri membeku, malu dan marah. Namun, gadis kecil yang sedang dihakimi itu mengangkat tangannya. Dengan jari yang gemetar namun penuh keyakinan, Rahma menunjuk lurus ke arah saya.

Tepat pada detik itu, lonceng masuk berbunyi dan wali kelas melangkah ke dalam ruangan, membubarkan kekacauan tersebut. Buku catatannya mungkin terbongkar, air matanya mungkin jatuh, tapi keberaniannya hari itu mengukir namaku sebagai pahlawannya, dan namanya sebagai satu-satunya wanita yang akan kuhargai.

Bab 5: Cincin Mainan dan Perpisahan yang Sunyi

Hari-hari berlalu. Hubungan kami semakin erat. Suatu hari, dia memberikan saya sebuah cincin—hanya cincin mainan biasa yang sering dijual abang-abang di depan gerbang SD. Tapi bagi saya, itu adalah harta karun.

Firasat buruk mulai datang di hari Minggu. Ibu menyuruh saya pergi ke pasar terdekat untuk membeli gula dan kopi bubuk untuk warung. Di tengah bisingnya pasar, mata saya menangkap sosok ibu Rahma. Langkah saya terhenti saat tak sengaja mendengar percakapan beliau dengan ibu-ibu lain.

"Iya, Rahma bakalan pindah sekolah nanti pas naik kelas dua," sayup-sayup suara itu menghantam telinga saya.

Saya terkejut, dunia rasanya runtuh. Saya berlari pulang ke rumah dengan dada sesak.

Keesokan harinya di sekolah, Rahma terlihat berbeda. Dia semakin menempel pada saya, bercerita lebih banyak dari biasanya, seolah dia sedang berpacu dengan waktu yang tersisa. Saya mendengarkan setiap patah katanya dalam diam, menelan kenyataan pahit yang belum sanggup saya tanyakan padanya.

Puncaknya terjadi beberapa waktu kemudian. Dengan mata yang sembab dan air mata yang jatuh tak tertahan, Rahma memberikan saya tiga benda: sebuah buku, sebatang pensil, dan sebuah penghapus.

"Aku mau pindah sekolah," isaknya pecah. "Tolong jaga ini ya, Sena."

Saya tidak menangis di hadapannya, tapi hati anak kecil saya hancur berkeping-keping. Sejak hari itu, bangku di samping saya kosong. Bahkan berminggu-minggu sebelum pembagian rapor, dia sudah tidak pernah masuk lagi.

Saat libur panjang usai dan saya resmi naik ke kelas 2, saya berlari ke sekolah dengan sisa-sisa harapan. Saya menunggunya di depan kelas, berharap semua ini hanya kebohongan. Tapi Rahma Waty tidak pernah datang lagi.

Epilog: Rindu yang Menolak Padam

Kepergiannya meninggalkan rongga besar di dada saya. Saya kehilangan semangat, meski hidup harus terus berjalan. Di tengah sisa-sisa trauma bullying di SD, semesta seolah enggan membiarkan saya melupakannya. Di kelas 3, 5, dan 6, lewat teman-teman lama, pesan itu selalu datang: "Sena, ada salam dari Rahma. Katanya dia kangen."

Setiap kali pesan itu tiba, ia menjadi penyambung nyawa bagi kenangan kami.

Lulus SD, saya pindah rumah. Saya melanjutkan SMP, lalu SMK, hingga kini menjadi mahasiswa tingkat akhir di Pontianak, menyusun skripsi dan membangun mimpi masa depan.

Namun, selama 18 tahun waktu berputar, tidak ada satu pun wanita yang mampu menempati ruang yang telah dia tinggalkan. Saya mencari nama itu di mana-mana. Saya mencari wajah dengan rambut ikal dan tahi lalat kecil di sudut bibir. Namun, nihil.

Entah di belahan bumi mana kamu berada sekarang, Rahma. Jika takdir mengizinkan matamu membaca tulisan ini, aku hanya ingin kamu tahu satu hal: Anak laki-laki nakal yang dulu pernah kamu sebut namanya di depan kelas itu, tidak pernah sekalipun menukar namamu dengan nama orang lain.

Aku berharap kamu bahagia. Aku berharap kamu tumbuh menjadi wanita yang hebat untuk dirimu sendiri, karena sulit sekali menemukan kebaikan yang sejati di dunia ini, kebaikan seperti yang pernah kamu berikan padaku.

Semoga kamu sehat selalu, di mana pun kamu berada. I love you, Rahma Waty.

Siapkan Kapsul Waktu Anda Sekarang

Jangan biarkan pesan cinta atau aset berharga Anda hilang tak berjejak. GemaKala membantu Anda menjaganya dengan aman hingga waktu yang tepat tiba.

Mulai Buat Wasiat

Baca Juga

Artikel lain dalam topik Inspirasi & Refleksi