Sejak kecil, struktur masyarakat kita telah merancang sebuah protokol yang sangat rapi dan jelas tentang bagaimana kita harus menghadapi sebuah kematian. Ketika seseorang yang kita kenal meninggal dunia, ada serangkaian ritual yang memvalidasi rasa sakit tersebut: ada upacara pemakaman, ada karangan bunga yang dikirimkan, ada masa berkabung yang dimaklumi oleh tempat kerja, dan ada pelukan simpati dari kerabat terdekat. Seluruh dunia seolah berhenti sejenak untuk mengakui bahwa Anda baru saja kehilangan sesuatu yang berharga.
Namun, tidak ada satu pun buku panduan sosial atau ritual simpati yang disiapkan ketika Anda kehilangan sesuatu yang sifatnya tidak kasatmata: versi masa depan dari diri Anda sendiri.
Bagaimana cara kita berduka ketika kita terpaksa mengubur impian besar kita? Tidak ada karangan bunga ketika Anda harus merobek surat penerimaan universitas impian karena orang tua jatuh bangkrut. Tidak ada masa berkabung resmi ketika Anda terpaksa meninggalkan passion di bidang seni demi mengambil pekerjaan korporat yang menguras jiwa semata-mata untuk melunasi utang keluarga sebagai generasi sandwich.
Dalam keheningan, banyak dari kita yang berjalan menyusuri kehidupan sehari-hari sambil membawa sebuah "batu nisan" di dalam kepala kita. Kita menangisi sebuah kehidupan yang tidak pernah sempat kita jalani. Dan secara psikologis, rasa sakit dari kehilangan eksistensial ini sering kali terasa sama menyiksanya, bahkan terkadang lebih rumit, daripada kematian fisik itu sendiri.
Kehidupan yang Tak Dijalani (The Unlived Life)
Seorang psikoanalis dan penulis terkemuka asal Inggris, Adam Phillips, dalam bukunya yang provokatif berjudul "Missing Out: In Praise of the Unlived Life", membedah fenomena ini dengan sangat brilian. Phillips mengemukakan bahwa setiap manusia pada dasarnya hidup secara paralel dengan "kehidupan-kehidupan lain" di dalam kepala mereka. Kita selalu dihantui oleh bayangan tentang siapa kita jadinya jika kita mengambil keputusan yang berbeda, jika kita lahir di keluarga yang lebih mapan, atau jika kita tidak menyerah pada tekanan realita.
Menurut Phillips, kehidupan yang tidak kita jalani (the unlived life) ini bukanlah sekadar khayalan kosong. Secara emosional, bayangan ini memiliki presensi atau kehadiran yang sangat nyata. Sayangnya, ketika realita memaksa kita untuk membelokkan arah dan membunuh impian tersebut, kita mengalami apa yang disebut sebagai perpecahan identitas. Kehilangan impian terasa sedalam kematian karena pada detik kita melepaskan impian tersebut, ada sebagian dari ego dan identitas inti kita yang ikut mati bersamanya.
Duka yang Tidak Diakui (Disenfranchised Grief)
Salah satu alasan mengapa kehilangan impian ini terasa sangat mencekik adalah karena lingkungan sosial tidak memvalidasinya. Dr. Kenneth Doka, seorang pakar psikologi duka cita, memperkenalkan istilah Disenfranchised Grief (duka yang tidak terakui). Ini adalah jenis duka yang dialami seseorang ketika kehilangannya tidak diakui secara terbuka, tidak divalidasi secara sosial, atau dianggap tidak pantas untuk ditangisi.
Ketika Anda mencoba menceritakan kesedihan Anda karena gagal mengejar cita-cita, respons masyarakat sering kali berujung pada toxic positivity (kepositifan yang beracun). Anda mungkin akan mendengar kalimat seperti: "Sudahlah, syukuri saja pekerjaanmu yang sekarang, di luar sana banyak yang menganggur," atau "Tuhan pasti punya rencana yang lebih baik." Meskipun diucapkan dengan niat baik, kalimat-kalimat ini secara tidak sadar membungkam hak Anda untuk bersedih. Anda dipaksa untuk langsung melompat ke tahap "bersyukur" tanpa diizinkan melewati fase berduka. Akibatnya, rasa kehilangan itu tidak pernah benar-benar sembuh. Ia mengendap di alam bawah sadar, berubah menjadi kebencian terpendam (resentment), rasa sinis terhadap hidup, atau bahkan depresi fungsional yang membuat Anda merasa hampa meskipun dari luar hidup Anda terlihat mapan dan baik-baik saja.
Seni Melakukan 'Pemakaman Simbolis' pada Masa Depan
Berdamai dengan versi diri kita yang tak pernah terwujud membutuhkan sebuah kedewasaan emosional tingkat tinggi. Anda tidak bisa menyembuhkan luka ini dengan cara menyangkalnya atau menenggelamkan diri dalam tumpukan pekerjaan. Anda harus berani menatap luka tersebut dan melakukan sebuah "pemakaman simbolis".
Psikiater dan penyintas Holocaust, Viktor Frankl, melalui pendekatan Logoterapi, mengajarkan bahwa manusia tidak selalu memiliki kendali atas tragedi atau realita pahit yang menimpa mereka, tetapi manusia memiliki kebebasan mutlak untuk memilih sikap dan menemukan makna baru di tengah penderitaan tersebut.
Langkah pertama untuk sembuh adalah dengan memberikan diri Anda sendiri validasi. Akuilah bahwa Anda sedang berduka. Menangislah untuk masa muda Anda yang mungkin terampas oleh tanggung jawab terlalu dini. Bersedihlah untuk karier ideal yang terpaksa Anda relakan. Merasa hancur karena impian yang gagal bukanlah tanda bahwa Anda adalah orang yang tidak bersyukur atas napas Anda hari ini. Itu hanyalah tanda bahwa Anda menghargai potensi diri Anda sendiri, dan Anda mengerti betapa berharganya impian tersebut bagi jiwa Anda.
Setelah Anda mengizinkan diri Anda untuk berduka secara paripurna, barulah proses integrasi bisa dimulai. Anda mungkin tidak pernah menjadi sosok ideal yang Anda bayangkan lima atau sepuluh tahun yang lalu. Namun, versi diri Anda yang sekarang—yang mungkin babak belur, dipenuhi kompromi dengan realita, namun tetap memilih untuk bangun dan bertahan setiap pagi—adalah versi yang jauh lebih tangguh dari apa yang pernah Anda bayangkan.
Kehidupan yang Anda jalani saat ini mungkin bukanlah kehidupan yang Anda impikan, tetapi ini adalah satu-satunya kehidupan nyata yang Anda miliki. Dan di dalam ketidaksempurnaannya, di sela-sela rutinitas yang mungkin terasa biasa saja, selalu ada ruang yang cukup luas untuk menumbuhkan harapan baru, merajut makna yang berbeda, dan akhirnya, menemukan bentuk kebahagiaan yang jauh lebih membumi.