Ada sebuah ironi yang sangat lazim terjadi dalam kehidupan asmara manusia modern. Selama bertahun-tahun, kita mungkin mengeluh tentang betapa lelahnya kita terjebak dalam hubungan yang beracun (toxic). Kita menangis karena diselingkuhi, lelah menghadapi pasangan yang manipulatif, dan terus-menerus berdoa agar suatu hari nanti dikirimkan sosok yang stabil, setia, dan mencintai kita dengan tulus.
Namun, ketika doa itu akhirnya terkabul dan sosok "bendera hijau" (green flag) itu benar-benar hadir di depan mata, sebuah reaksi psikologis yang aneh justru muncul. Alih-alih merasa bahagia, kita malah merasa bosan. Kita merasa hubungan tersebut terlalu datar, tidak ada percikan gairah (spark), dan yang paling parah: kita diam-diam merasa sangat cemas. Tanpa sadar, kita mulai memancing pertengkaran yang tidak perlu, mencari-cari kesalahan kecil pasangan, atau bahkan perlahan-lahan menjauh (ghosting).
Mengapa kita justru menghancurkan satu-satunya hal baik yang selama ini kita cari? Jawabannya tidak sesederhana "kurang bersyukur". Ini adalah masalah kecanduan neurokimia dan trauma masa lalu yang mengakar kuat di dalam sistem saraf kita.
Adiksi Neurokimia: Ketika Otak Terbiasa dengan 'Rollercoaster'
Untuk memahami fenomena sabotase diri ini, kita harus melihat ke dalam cara kerja otak dan sistem saraf manusia. Dr. Nicole LePera, seorang psikolog klinis yang dikenal dengan pendekatan holistiknya, menjelaskan bahwa manusia yang terbiasa hidup dalam dinamika hubungan yang penuh konflik sebenarnya mengalami disregulasi sistem saraf.
Dalam hubungan yang toxic, otak kita terus-menerus diombang-ambingkan oleh siklus stres dan kelegaan. Saat bertengkar hebat, tubuh melepaskan hormon kortisol dan adrenalin dalam jumlah masif. Lalu, ketika pasangan tiba-tiba meminta maaf dan bersikap sangat manis (love bombing), otak kita dibanjiri oleh dopamin dan oksitosin. Fluktuasi ekstrem inilah yang menciptakan sensasi butterflies in the stomach atau percikan gairah yang sering disalahartikan sebagai "cinta mati".
Seiring berjalannya waktu, otak menjadi kecanduan terhadap siklus hormon stres tersebut. Ketika Anda akhirnya masuk ke dalam hubungan yang benar-benar sehat, stabil, dan damai, otak Anda mengalami semacam "gejala putus obat" (withdrawal). Karena tidak ada drama, tidak ada lonjakan adrenalin. Hubungan yang sehat terasa "membosankan" karena sistem saraf Anda belum terkalibrasi untuk menerima kedamaian sebagai sesuatu yang normal. Kedamaian justru diterjemahkan oleh otak sebagai sebuah ancaman, memicu alarm kecemasan: "Ini terlalu tenang, pasti ada sesuatu yang buruk yang akan segera terjadi."
Teori Kelekatan dan Luka Masa Kecil yang Belum Sembuh
Akar dari kecanduan rasa sakit ini hampir selalu bisa ditelusuri kembali ke masa kanak-kanak. Psikolog John Bowlby, bapak dari Attachment Theory (Teori Kelekatan), merumuskan bahwa cara kita menerima cinta di masa dewasa sangat bergantung pada bagaimana kita menerima cinta dari pengasuh (orang tua) di masa kecil.
Jika Anda tumbuh dalam keluarga yang tidak stabil—di mana cinta sering kali datang bersamaan dengan kemarahan, pengabaian, atau syarat-syarat yang mengekang—otak Anda akan merekam sebuah cetak biru (blueprint) bahwa "Cinta sama dengan Rasa Sakit" atau "Cinta sama dengan Perjuangan". Secara psikologis, manusia memiliki tendensi kuat untuk mencari hal-hal yang terasa familier, meskipun hal tersebut menyakitkan.
Psikiater terkemuka Dr. Bessel van der Kolk dalam mahakaryanya "The Body Keeps the Score" menegaskan bahwa trauma membuat tubuh kita merekam pola ancaman. Ketika Anda bertemu dengan orang yang konsisten, tidak manipulatif, dan mencintai Anda tanpa syarat, alam bawah sadar Anda kebingungan. Hal ini terasa sangat asing (unfamiliar). Karena terasa asing, ego Anda menolaknya demi "melindungi" Anda, menganggap bahwa cinta yang tidak perlu diperjuangkan dengan tangisan adalah cinta yang palsu.
Sabotase Diri sebagai Mekanisme Pertahanan
Ketidakmampuan untuk menoleransi kedamaian ini akhirnya melahirkan mekanisme pertahanan yang destruktif: sabotase diri. Kita secara tidak sadar meyakini bahwa kita tidak pantas mendapatkan kebahagiaan yang tenang (low self-esteem). Daripada hidup dalam kecemasan menunggu kapan pasangan baik ini akan menyakiti atau meninggalkan kita, kita memilih untuk "menghancurkannya lebih dulu".
Kita memicu pertengkaran agar kita bisa merasakan kembali siklus adrenalin yang familier. Kita mencari-cari kelemahan pasangan untuk membuktikan bahwa "Tuh kan, dia sama saja seperti yang lain." Ini adalah cara yang sangat tragis bagi otak untuk mendapatkan kembali kendali atas situasi yang sebenarnya tidak mengancam sama sekali.
Belajar Duduk Bersama Kedamaian
Memutus siklus kecanduan rasa sakit ini membutuhkan waktu, kesabaran, dan sering kali bantuan terapi profesional. Langkah pertama yang paling krusial adalah kesadaran batin (self-awareness). Anda harus menyadari bahwa rasa "bosan" yang Anda rasakan saat ini bukanlah tanda bahwa pasangan Anda tidak tepat, melainkan tanda bahwa sistem saraf Anda sedang belajar menyerap kedamaian.
Cinta sejati dan sehat memang tidak terasa seperti rollercoaster yang membuat jantung berdebar kencang penuh ketakutan. Cinta yang sehat terasa seperti sebuah rumah yang hangat; tempat di mana Anda bisa duduk tenang, membaca buku, dan bernapas tanpa harus selalu waspada.
Mulailah berlatih untuk menoleransi kedamaian. Ketika dorongan untuk menciptakan drama atau mencari gara-gara muncul, berhentilah sejenak. Ambil napas panjang, dan katakan pada diri Anda sendiri: "Saya aman. Saya tidak sedang diserang. Orang ini konsisten, dan saya pantas menerima cinta yang tidak menyakiti." Mengubah pola kerja sistem saraf bukanlah pekerjaan semalam, tetapi dengan konsistensi, Anda akan pelan-pelan menyadari bahwa kedamaian adalah bentuk kebahagiaan tertinggi yang layak Anda nikmati.